Kuartal pertama tahun ini menunjukkan kesenjangan yang mencolok di sektor perjalanan. Meskipun pemain besar seperti Royal Caribbean membukukan angka pendapatan yang tinggi, mereka juga bergulat dengan dampak geopolitik yang tidak menentu dan perubahan mendasar dalam cara pelanggan ditemukan. Sementara itu, jaringan jaringan kelas menengah seperti Choice Hotels sedang berjuang untuk mengubah permintaan yang memecahkan rekor menjadi pemesanan yang menguntungkan, dan tim pemasaran di seluruh industri mengalami kesulitan karena mereka tidak dapat mengidentifikasi siapa pelanggan mereka.

Inilah cara keempat tren penting ini mengubah lanskap.

Akhir dari Kontrol Kata Kunci: AI Pivot Google

Google secara mendasar mengubah keekonomian iklan perjalanan. Selama beberapa dekade, penelusuran berbayar mengandalkan kontrol kata kunci yang tepat, sehingga memungkinkan merek menawar istilah tertentu. Namun, dengan munculnya Ikhtisar AI dan Mode AI, lalu lintas organik digantikan oleh platform penelusuran sintetis.

“AI Max” Google yang baru memposisikan iklan perjalanan langsung dalam hasil berbasis AI ini. Pergeseran ini memaksa pengiklan membayar untuk visibilitas dalam sistem yang tidak lagi memprioritaskan pencocokan kata kunci sederhana. Implikasinya jelas: merek kehilangan pengaruh tradisionalnya. Untuk bertahan hidup, pemasar perjalanan harus beradaptasi dengan model di mana visibilitas dibeli tidak hanya melalui tawaran, namun melalui integrasi ke dalam algoritma AI yang kini menjaga perhatian pengguna.

Kesenjangan Identitas: Mengapa Teknologi Pemasaran Tidak Cukup

Meskipun miliaran dolar dihabiskan untuk teknologi pemasaran, sebagian besar merek perjalanan masih buta terhadap sebagian besar audiensnya. Panduan baru dari Wunderkind menyoroti hambatan penting: resolusi identitas.

Tanpa kemampuan untuk menggabungkan data pengguna di seluruh perangkat dan platform, merek tidak dapat secara akurat menargetkan wisatawan bernilai tinggi atau mendorong pemesanan langsung secara efisien. “Kesenjangan identitas” ini berarti bahwa dana pemasaran sering kali terbuang sia-sia untuk jangkauan umum dibandingkan keterlibatan yang presisi. Ketika peraturan privasi diperketat dan cookie dihilangkan, merek yang memecahkan teka-teki identitas ini akan menjadi satu-satunya yang mampu memaksimalkan keuntungan dari saluran mereka yang ada.

Pilihan Hotel: Permintaan Bukan Takdir

Choice Hotels melaporkan kuartal pertama yang sulit, dengan kinerja yang buruk dibandingkan kompetitor di semua segmen hotel. Hal ini penting mengingat latar belakangnya adalah permintaan triwulanan terkuat dalam beberapa tahun terakhir.

Kesenjangan antara permintaan yang tinggi dan kinerja yang buruk menunjukkan adanya masalah struktural, bukan kurangnya minat. Ketika sebuah merek gagal memanfaatkan ledakan pasar, hal ini sering kali menunjukkan inefisiensi dalam strategi penetapan harga, saluran distribusi, atau persepsi merek. Untuk Choice Hotel, pertanyaannya bukan lagi apakah wisatawan ingin menginap, namun apakah jaringan hotel tersebut mempunyai posisi yang tepat