Southwest Airlines menerapkan peraturan yang lebih ketat mengenai penggunaan dan penyimpanan bank daya portabel dalam penerbangannya. Aturan baru ini, yang mulai berlaku pada 20 April, muncul ketika industri penerbangan menghadapi tantangan yang semakin besar: meningkatnya frekuensi kebakaran terkait baterai litium selama penerbangan.

Pembatasan Penumpang Baru

Berdasarkan komunikasi internal dari Dave Hunt, Wakil Presiden Keselamatan dan Keamanan Southwest, maskapai ini memperkenalkan beberapa mandat khusus bagi para pelancong:

  • Batas Kuantitas: Penumpang kini dibatasi hanya untuk satu pengisi daya portabel bertenaga baterai litium per orang.
  • Mandat Penyimpanan: Pengisi daya portabel tidak lagi diizinkan berada di tempat penyimpanan di atas kepala. Penumpang harus membawa perangkat tersebut atau menyimpannya dalam tas jinjing yang terletak di bawah kursi di depannya.
  • Penggunaan Stopkontak: Untuk mencegah panas berlebih, penumpang dilarang menggunakan stopkontak di kursi untuk mengisi daya bank daya portabel. Pengisian daya standar untuk perangkat (seperti ponsel atau laptop) yang menggunakan kabel langsung tetap diizinkan.

Masalah Keamanan yang Mendasari: Volatilitas Baterai Lithium

Pendorong utama di balik perubahan ini adalah risiko inheren yang ditimbulkan oleh teknologi litium-ion. Meskipun penting untuk perjalanan modern, baterai ini rentan terhadap pembakaran spontan jika mengalami kerusakan fisik atau mengalami korsleting.

Ini bukan sekedar risiko teoretis. Data dari Federal Aviation Administration (FAA) menyoroti tren peningkatan yang mengkhawatirkan:
– Pada tahun 2024, FAA melaporkan 97 insiden baterai litium yang melibatkan asap, kebakaran, atau panas ekstrem di pesawat, naik dari 89 insiden pada tahun sebelumnya.
– Lebih dari sepertiga insiden ini disebabkan langsung oleh baterai.
– Sejauh ini pada tahun 2026, sudah ada 14 insiden yang dilaporkan, sembilan di antaranya disebabkan oleh baterai atau power pack.

Tren Global yang Berkembang

Southwest tidak bertindak sendirian. Industri penerbangan semakin bereaksi terhadap kecelakaan tingkat tinggi yang menekankan bahaya penggunaan baterai yang tidak diawasi.

Misalnya, pada bulan Januari 2025, sebuah pesawat Air Busan hancur di landasan pacu di Korea Selatan, dan para penyelidik menunjuk ke bank listrik sebagai kemungkinan penyebabnya. Insiden seperti ini telah mendorong maskapai internasional besar—termasuk Thai Airways, Singapore Airlines, dan Malaysia Airlines —untuk menerapkan larangan penggunaan atau pengisian daya power bank selama penerbangan.

Mengapa hal ini penting: Karena para pelancong semakin bergantung pada bank daya berkapasitas tinggi untuk mengisi bahan bakar perangkat seluler mereka, kepadatan energi yang disimpan di kabin meningkat. Dengan membatasi jumlah perangkat dan membatasi penyimpanannya di area yang dapat dijangkau (di bawah kursi, bukan di atas kepala), maskapai penerbangan bertujuan untuk memastikan bahwa jika baterai rusak, baterai dapat diidentifikasi dan ditangani segera sebelum kebakaran besar terjadi.

Kesimpulan

Kebijakan baru Southwest Airlines mencerminkan pergeseran industri yang lebih luas ke arah prioritas pencegahan kebakaran melalui manajemen perangkat yang lebih ketat. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengurangi meningkatnya risiko kegagalan fungsi baterai litium di lingkungan kabin yang semakin padat dan bergantung pada energi.