Arab Saudi mengalami lonjakan aktivitas hiking dan aktivitas luar ruangan, didorong oleh kombinasi beberapa faktor termasuk peningkatan kesadaran kesehatan, pelestarian ruang alam, inisiatif pemerintah, dan meningkatnya rasa kebersamaan. Tempat yang dulunya terkenal dengan gurunnya yang luas dan belum terjamah kini menjadi tujuan bagi penduduk lokal dan wisatawan yang mencari petualangan dan perendaman budaya.
Bangkitnya Budaya Luar Ruang
Selama beberapa dekade, bentang alam Arab Saudi yang menakjubkan – pegunungan terjal, gurun pasir, dan lembah tersembunyi – sebagian besar masih belum dijelajahi oleh penduduknya sendiri. Saat ini, situasinya telah berubah secara dramatis. Peningkatan aktivitas hiking bukan hanya tentang aktivitas fisik; ini tentang mendapatkan kembali hubungan dengan warisan alam negara tersebut. Akses mudah ke aplikasi navigasi, teknologi GPS, dan peta digital telah membuat jalur yang sebelumnya tidak dapat diakses dapat dinavigasi, sehingga memicu minat baru untuk menjelajahi kerajaan tersebut dengan berjalan kaki.
Tujuan Utama: Dari ‘Tepi Dunia’ hingga Lembah Bulan
Beberapa lokasi memimpin tren ini. Tebing Tuwaiq, yang menjulang setinggi 3.600 kaki di atas dataran di sekitarnya, merupakan rumah bagi “Edge of the World” yang ikonik, sebuah tempat populer yang menawarkan pemandangan gurun yang indah. Di sebelah barat lereng, Wadi Al Qamar (Lembah Bulan) menyediakan jalan setapak yang berkelok-kelok melalui formasi batuan mirip bulan. Di selatan, dataran tinggi Asir memiliki jalan setapak yang subur melintasi perkebunan kopi dan hutan juniper, termasuk Jalur Jabal Sawda yang menantang, yang mengarah ke puncak tertinggi di Arab Saudi pada ketinggian 9.892 kaki. Destinasi ini tidak hanya indah; mereka mewakili perubahan dalam cara orang Saudi berinteraksi dengan lingkungannya.
Sejarah dan Warisan dengan Berjalan Kaki
Mendaki gunung di Arab Saudi seringkali dikaitkan dengan eksplorasi budaya. Jalur di AlUla, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO, melewati reruntuhan kuno Nabataean, ukiran batu, dan Cagar Alam Sharan. Jejak Mussaigrah dan Jejak Arkeologi Ajlan di Arab Saudi tengah mengikuti jalur yang pernah digunakan oleh pedagang dupa, memperlihatkan grafiti berusia 8.000 tahun dan sisa-sisa pemukiman kuno. Hubungan antara alam dan sejarah menambah kedalaman pengalaman, menawarkan para pendaki gambaran sekilas tentang kekayaan masa lalu kawasan ini.
Pendakian Perkotaan dan Dukungan Pemerintah
Tren ini meluas ke kota-kota, di mana kelompok pejalan kaki seperti Infinite Trails dan Riyadh Walkers mengatur kunjungan rutin. Pemerintah kota Jeddah bahkan meluncurkan Jeddah Walks 2, sebuah program jalan kaki gamified yang mendorong warga untuk menjelajahi kota dengan berjalan kaki. Program Kualitas Hidup Visi 2030 pemerintah Saudi memainkan peran penting, berinvestasi dalam kegiatan di luar ruangan dan mendorong gaya hidup sehat. Proyek seperti rehabilitasi Wadi Hanifa di Riyadh telah menciptakan ruang hijau yang mudah diakses dengan jalur yang terpelihara dengan baik, menjadikan pendakian lebih inklusif bagi keluarga dan pejalan kaki santai.
Balapan Lintas Alam dan Pembangunan Komunitas
Meningkatnya popularitas lari dan hiking juga tercermin dalam acara seperti Riyadh Marathon, yang partisipasinya meroket dari 10.000 menjadi lebih dari 50.000 pelari sejak tahun 2022. Di AlUla, AlUla Trail Race menggabungkan ketahanan dengan pemandangan menakjubkan. Acara-acara ini bukan sekedar kompetisi; ini adalah peluang untuk membangun komunitas. Jaringan yang berfokus pada perempuan seperti Komunitas RWG juga bermunculan, menciptakan ruang yang aman dan mendukung bagi pendaki perempuan.
Munculnya budaya hiking di Arab Saudi lebih dari sekedar tren – ini adalah perubahan mendasar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan dan warisan budaya mereka. Dengan memadukan aktivitas fisik, eksplorasi budaya, dan pembangunan komunitas, kerajaan ini mengukir identitas baru untuk dirinya sendiri, selangkah demi selangkah.


























