Ketika lanskap perjalanan di Asia Tenggara mengalami pergeseran digital dan demografi yang besar, para pemimpin perhotelan menghadapi serangkaian tantangan baru: margin yang lebih ketat, ekspektasi konsumen yang meningkat, dan pergerakan cepat menuju pemesanan berbasis AI.
Pada Skift Asia Forum 2026 mendatang, Amit Saberwal, Pendiri dan CEO RedDoorz, akan berbagi bagaimana platformnya mengatasi kompleksitas ini. Dengan memanfaatkan segmentasi merek, kendali operasional, dan kecerdasan buatan, RedDoorz memposisikan dirinya untuk menangkap gelombang pertumbuhan berikutnya di salah satu pusat perjalanan paling dinamis di dunia.
Strategi Dibalik Pertumbuhan 25% Tahun ke Tahun
Meskipun ada tantangan makroekonomi global, RedDoorz tetap mempertahankan tingkat pertumbuhan tahun-ke-tahun sebesar 25%. Stabilitas ini bukan suatu kebetulan; hal ini merupakan hasil dari strategi multi-merek yang dirancang untuk menangkap berbagai segmen pasar.
Pendorong utama perluasan ini meliputi:
– Diversifikasi Merek: Meskipun bisnis inti berfokus pada penghematan anggaran, merek premium seperti Sans dan Urbanview mengalami pertumbuhan eksplosif, meningkat 40-50% per tahun.
– Kontrol Operasional: Untuk memastikan kualitas layanan yang konsisten—masalah yang umum terjadi di pasar yang terfragmentasi—RedDoorz telah memperluas divisi hotel yang “dioperasikan perusahaan”.
– Penskalaan Agresif: Divisi ini, yang saat ini mengelola lebih dari 100 hotel, diproyeksikan akan berkembang dua kali lipat dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Mengendarai Gelombang Makroekonomi di Indonesia
Saberwal menyoroti Indonesia sebagai cetak biru keberhasilan penskalaan. Dengan jumlah penduduk melebihi 280 juta jiwa dan demografi profesional muda yang sangat besar (berusia 18-40 tahun), negara ini menawarkan “kurva pertumbuhan” yang unik.
Sinergi antara infrastruktur dan demografi sangat penting dalam hal ini. Selama lima tahun terakhir, peningkatan konektivitas jalan raya dan pembangunan pelabuhan di kota-kota seperti Bandung, Malang, Surabaya, dan Balikpapan telah membuka pusat bisnis baru. RedDoorz telah berhasil menyelaraskan evolusi mereknya dengan siklus hidup para pelancong muda ini: seiring dengan pertumbuhan karier dan daya beli mereka, RedDoorz memperkenalkan merek-merek baru untuk memenuhi kebutuhan mereka yang terus berkembang, sehingga menumbuhkan loyalitas jangka panjang.
Pergeseran Profil Wisatawan: Dari Fasilitas ke Pengalaman
Prioritas wisatawan modern telah berubah secara signifikan dibandingkan era sebelum pandemi. Berdasarkan tren terkini, beberapa pola utama muncul:
- Jarak Pendek & Fokus Regional: Karena ketidakpastian ekonomi, wisatawan memilih perjalanan regional yang lebih pendek, yaitu 3–4 hari.
- Ekonomi “Pengalaman”: Wisatawan tidak lagi bersedia menghabiskan seluruh anggarannya untuk akomodasi mewah. Sebaliknya, mereka mencari penginapan yang dapat diandalkan dan dengan harga terjangkau yang memungkinkan mereka mengalokasikan kembali dana untuk budaya lokal dan pengalaman unik.
- Keaslian Dibanding Fasilitas: Terdapat peningkatan preferensi terhadap penginapan autentik dan berlokasi di pusat kota yang menawarkan pengalaman mendalami kehidupan lokal dibandingkan kemewahan hotel standar.
- Penemuan Berbasis AI: Perjalanan pemesanan menjadi sangat individual, dengan 75% pengguna kini memanfaatkan penelusuran yang dibantu AI untuk merencanakan perjalanan mereka.
Revolusi AI: Efisiensi dan Personalisasi
Mungkin perubahan yang paling signifikan adalah transisi dari pemesanan “langsung” ke ekosistem yang sepenuhnya digital. Dengan penetrasi internet di Asia Tenggara yang mencapai 75%, pertarungan memperebutkan pangsa pasar kini terjadi di platform digital.
Bagi operator, fase pertumbuhan berikutnya akan bergantung pada fleksibilitas operasional. Saberwal mencatat bahwa AI bukan lagi sekedar alat untuk pencarian langsung terhadap pelanggan; ini menjadi alat penting untuk efisiensi backend. RedDoorz saat ini menerapkan AI untuk:
– Meningkatkan penelusuran yang dipersonalisasi untuk tamu.
– Pantau operasi dan manajemen kualitas secara real-time.
– Mengurangi biaya operasional sebesar 20–40%, memungkinkan margin yang lebih tinggi bahkan dalam skala besar.
“Fase pertumbuhan mendatang akan ditentukan oleh kemampuan sisi pasokan untuk beradaptasi. Operator hotel harus meningkatkan fleksibilitas operasional mereka agar selaras dengan ekspektasi tamu yang tinggi.”
Kesimpulan
Masa depan perhotelan di Asia Tenggara terletak pada kemampuan untuk menyeimbangkan inovasi digital dengan kualitas layanan fisik. Dengan menggunakan AI untuk mendorong efisiensi dan strategi multi-merek untuk menangkap perubahan demografis, operator dapat mengubah volatilitas makroekonomi menjadi peluang pertumbuhan yang terukur.


























