Pilot American Airlines secara resmi menyatakan “tidak percaya” pada manajemen maskapai tersebut, dan meminta pertemuan langsung dengan dewan direksi untuk mengatasi masalah keuangan dan operasional yang parah. Namun, dewan menolak permintaan tersebut, dan malah mengarahkan pilot kembali ke eksekutif yang sama yang mereka kritik. Kebuntuan ini menggarisbawahi ketegangan yang mendalam di dalam perusahaan ketika perusahaan tersebut berjuang dengan profitabilitas dan semangat kerja karyawan.
Kesenjangan Finansial dan Ketidakpuasan Karyawan
Situasi ini dipicu oleh perbedaan yang signifikan dalam pembayaran bagi hasil dibandingkan dengan pesaing. Meskipun karyawan Delta Air Lines menerima gaji selama delapan minggu sebagai bonus, pilot American Airlines hanya mendapat 0,3% dari gaji mereka—hanya $150 untuk mereka yang berpenghasilan $50.000. Kesenjangan ini telah memperburuk kemarahan di kalangan para pilot, yang baru-baru ini mengadakan pertemuan tahunan di Dallas untuk membahas tindakan potensial yang menentang kepemimpinan.
Respon Dewan dan Akuntabilitas Manajemen
Para pilot tidak lagi menyerukan pemecatan CEO tersebut, namun ekspresi “tidak percaya” mereka terlihat jelas. Meskipun demikian, dewan memilih untuk tidak terlibat langsung dengan mereka dan malah menjadwalkan pertemuan antara pilot dan CEO Robert Isom. Isom bermaksud untuk membahas kehadiran pilot, kegagalan operasional selama badai musim dingin baru-baru ini, dan rencana penyelesaian maskapai tersebut.
Langkah ini secara luas ditafsirkan sebagai penyimpangan, dan dewan direksi memberi isyarat bahwa keandalan pilot adalah komponen kunci dari perjuangan perusahaan. Uji coba tersebut tidak memberikan rekomendasi perbaikan yang dapat ditindaklanjuti, dan dewan tampaknya tidak mau terlihat tunduk pada tekanan tuntutan serikat pekerja.
Pertimbangan Strategis di Balik Keputusan Dewan
Penolakan dewan untuk bertemu dengan para pilot kemungkinan besar berakar pada pertimbangan strategis. Keterlibatan langsung dengan serikat pekerja dapat menjadi preseden, mengundang tuntutan serupa dari pemangku kepentingan lainnya dan menciptakan tekanan berkelanjutan untuk melakukan intervensi langsung. Peran dewan adalah mengawasi manajemen, bukan mengabaikannya dalam menanggapi keluhan karyawan. Mengizinkan pilot duduk di meja akan dianggap melemahkan tim eksekutif.
Situasi ini semakin diperumit dengan spekulasi yang terus berlanjut mengenai penggantian Isom sebagai CEO. Dewan memiliki sejarah menghindari pertanggungjawaban langsung atas kegagalan kinerja, dan setiap langkah untuk memecat CEO di bawah tekanan serikat pekerja akan terlihat lemah.
Gambaran Lebih Besar
Kebuntuan di American Airlines mencerminkan tren yang lebih luas dalam hubungan perburuhan di industri penerbangan. Pilot dan serikat pekerja lainnya semakin tegas dalam menuntut kompensasi dan masukan operasional yang lebih baik. Namun, dewan sering kali memprioritaskan mempertahankan otoritas manajemen dibandingkan tindakan yang dapat segera dilakukan. Dinamika ini kemungkinan akan terus terjadi ketika maskapai penerbangan bergulat dengan pemulihan pascapandemi dan tekanan persaingan. Keputusan dewan direksi American Airlines merupakan sinyal jelas bahwa mereka tidak akan menuruti tuntutan serikat pekerja, bahkan ketika menghadapi ketidakpuasan yang meluas.
























