Frontier Airlines sedang merestrukturisasi jaringan rutenya dan memperlambat pertumbuhan untuk mencapai profitabilitas yang berkelanjutan, sebuah langkah yang mencerminkan tantangan yang lebih luas di sektor maskapai penerbangan hemat. Maskapai penerbangan yang bermarkas di Denver ini akan keluar dari sepuluh kota pada pertengahan tahun 2026, sekaligus mengurangi ekspansi armada menjadi sekitar 10% per tahun hingga akhir dekade ini.

Pemotongan Rute dan Realitas Pasar

Maskapai ini akan menghentikan layanan di bandara berikut:

  • Bandara Internasional Patrick Leahy Burlington (BTV) di Vermont (layanan berakhir November 2025)
  • Bandara Internasional Charleston (CHS) – berakhir Mei 2026
  • Bandara Internasional Green Bay Austin Straubel (GRB) di Wisconsin (layanan berakhir Agustus 2025)
  • Bandara Internasional Harrisburg (MDT) di Pennsylvania – berakhir April 2026
  • Bandara Missoula Montana (MSO) (layanan berakhir Desember 2025)
  • Portland International Jetport (PWM) di Maine (layanan berakhir Agustus 2025)
  • Bandara Internasional Savannah/Hilton Head (SAV) (layanan berakhir Oktober 2025)
  • Bandara Cyril E. King (STT) di St. Thomas, Kepulauan Virgin AS (layanan berakhir Agustus 2025)
  • Bandara Henry E. Rohlsen (STX) di St. Croix, Kepulauan Virgin AS (layanan berakhir Agustus 2025)
  • Bandara Internasional Tulsa (TUL) – berakhir Mei 2026

Seorang juru bicara Frontier menghubungkan keluarnya hal ini dengan “permintaan dan dinamika pasar yang lebih luas.” Hal ini menunjukkan bahwa maskapai ini telah menilai kembali rute mana yang memberikan pendapatan yang cukup untuk mendukung kelanjutan operasinya. Maskapai penerbangan hemat, yang sangat bergantung pada pelancong, mengalami kesulitan pascapandemi karena biaya operasional meningkat lebih cepat daripada pendapatan.

Kinerja Keuangan dan Penyesuaian Armada

Frontier melaporkan kerugian bersih sebesar $137 juta pada tahun 2025 dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi biaya. Maskapai ini akan mengembalikan 24 Airbus A320neo ke AerCap, sehingga mengurangi armadanya menjadi 152 pesawat. Daripada melakukan ekspansi, Frontier berencana memaksimalkan pemanfaatan pesawat yang tersisa untuk mencapai target pertumbuhan 10%.

Selain itu, maskapai ini telah menunda pengiriman 69 pesawat A320neo baru yang semula dijadwalkan untuk tiga tahun ke depan, sehingga menundanya hingga tahun 2030 atau lebih. Keputusan ini menyoroti pendekatan hati-hati terhadap perluasan kapasitas di tengah ketidakpastian ekonomi.

Tantangan di Seluruh Industri

Restrukturisasi yang dilakukan Frontier mencerminkan kesulitan yang dihadapi oleh maskapai penerbangan bertarif rendah lainnya. Spirit Airlines, pesaing utama, telah dua kali mengajukan kebangkrutan Bab 11 dalam beberapa tahun terakhir. Kemampuan industri untuk mempertahankan tarif rendah sambil mengelola kenaikan biaya masih menjadi pertanyaan kritis.

CEO Jimmy Dempsey menyatakan maskapai ini “berfokus pada mengembalikan Frontier ke profitabilitas” melalui optimalisasi armada, pengendalian biaya, peningkatan keandalan, dan program loyalitas pelanggan.

Industri penerbangan sedang menjalani periode kalibrasi ulang, di mana pertumbuhan berkelanjutan memerlukan disiplin keuangan yang ketat. Langkah Frontier mencerminkan tren yang lebih luas menuju konsolidasi dan fokus pada rute-rute inti dibandingkan ekspansi agresif.