Setelah delapan puluh tahun beroperasi, Air France telah menghentikan semua penerbangan dari Paris Orly (ORY), dan secara resmi mengkonsolidasikan operasinya di Paris Charles de Gaulle (CDG) mulai tanggal 29 Maret 2026. Langkah ini, yang diumumkan pada tahun 2023, mewakili perubahan strategis dalam jaringan maskapai penerbangan, didorong oleh perubahan pola perjalanan dan pertimbangan efisiensi.
Pergeseran Strategi: Mengapa Orly?
Selama beberapa dekade, Air France membagi operasinya di Paris menjadi dua bandara: CDG, hub internasional yang lebih besar, dan ORY, yang lebih banyak melayani rute domestik dan rekreasi. Keputusan untuk meninggalkan Orly tidaklah tiba-tiba. Ini mengikuti tren yang jelas. Permintaan perjalanan udara domestik di Prancis telah menurun, terutama untuk rute jarak pendek dengan alternatif kereta api yang layak.
Analisis pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa lalu lintas penerbangan domestik dari Orly anjlok sebesar 40% sejak tahun 2019, sementara perjalanan pulang pergi turun secara mengejutkan sebesar 60%. Angka-angka ini menggarisbawahi perubahan mendasar dalam cara wisatawan Perancis bepergian – lebih sedikit perjalanan jarak pendek melalui udara, dan lebih bergantung pada kereta api.
Transavia Melangkah: Kontinuitas Berbiaya Rendah
Grup Air France-KLM tidak sepenuhnya meninggalkan Orly. Sebaliknya, anak perusahaan berbiaya rendahnya, Transavia, akan memperluas kehadirannya di bandara, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Air France. Ini adalah langkah yang disengaja untuk mempertahankan jejak di Orly sambil memanfaatkan model yang lebih hemat biaya.
Transavia akan mengambil alih bekas ruang tunggu Air France dan memperkenalkan fasilitas elit Flying Blue bagi penumpang, memastikan kesinambungan bagi pelanggan setia. Karyawan Air France yang sebelumnya ditempatkan di Orly telah ditawari posisi di CDG, untuk mengurangi kehilangan pekerjaan.
Gambaran Lebih Besar: Mega-Hub dan Efisiensi
Penataan kembali ini mencerminkan tren industri yang lebih luas menuju konsolidasi operasi di pusat-pusat utama. Memusatkan penerbangan di CDG menyederhanakan logistik, meningkatkan konektivitas, dan mengurangi biaya operasional. Langkah Air France mencerminkan strategi serupa yang diterapkan oleh maskapai lain seperti British Airways, yang telah mengalihkan rute jarak pendek dari Gatwick ke Heathrow sambil tetap mempertahankan kehadiran anak perusahaannya di CDG.
Keputusan untuk melakukan konsolidasi tidak hanya mencerminkan perubahan permintaan namun juga dorongan industri yang lebih luas untuk melakukan efisiensi. Maskapai penerbangan semakin memilih mega-hub untuk optimalisasi jaringan yang lebih baik.
Kesimpulan
Kepergian Air France dari Paris Orly menandai berakhirnya sebuah era, namun hal ini juga merupakan respons pragmatis terhadap kondisi pasar yang terus berkembang. Dengan melakukan konsolidasi di CDG dan memberdayakan Transavia di Orly, grup maskapai penerbangan ini bertujuan untuk mengoptimalkan jaringannya, memangkas biaya, dan tetap kompetitif dalam lanskap penerbangan yang terus berubah. Transisi ini bukanlah sebuah pengabaian, namun sebuah reposisi strategis demi keberlanjutan jangka panjang.


























