Agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dapat terus beroperasi di bandara AS bahkan setelah pegawai Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) menerima pembayaran kembali, menurut Tom Homan, pejabat tinggi perbatasan Gedung Putih. Hal ini merupakan akibat langsung dari penutupan pemerintah federal baru-baru ini dan mengakibatkan kekurangan staf di bandara-bandara nasional.

Dampak Penutupan terhadap Keamanan Bandara

Pengerahan agen ICE ke bandara dimulai sebagai tindakan sementara selama penutupan Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang menyebabkan agen TSA bekerja tanpa bayaran. Tujuannya adalah untuk mengisi kesenjangan yang disebabkan oleh berkurangnya staf dan untuk menjaga tingkat keamanan. Namun, situasinya lebih rumit dari sekedar mengembalikan gaji.

Lebih dari 500 karyawan TSA telah berhenti, dan sejumlah besar (lebih dari 12% tenaga kerja) sakit pada hari Jumat saja. Artinya, meskipun gaji telah dipulihkan, tantangan operasional akan tetap ada. Waktu tunggu di pos pemeriksaan keamanan dilaporkan memakan waktu berjam-jam di beberapa lokasi, dan badan tersebut masih kekurangan staf.

Peran dan Debat Lanjutan ICE

Homan menyatakan bahwa agen ICE akan tetap tinggal “sampai bandara terasa 100 persen” dan operasi normal kembali. Mereka saat ini sedang melakukan pemeriksaan identifikasi dan “menutup lubang keamanan,” meskipun para kritikus berpendapat bahwa kehadiran mereka sebagian besar hanya bersifat simbolis. Serikat pekerja yang mewakili petugas TSA mengklaim bahwa agen ICE “hanya menghalangi”, sementara beberapa laporan menunjukkan bahwa mereka hanya berpatroli di gedung-gedung daripada secara aktif mengatasi hambatan keamanan.

Peran sebenarnya dari agen ICE masih belum jelas, sehingga memicu perdebatan mengenai apakah mereka benar-benar mengurangi tekanan terhadap TSA atau hanya menciptakan lapisan birokrasi tambahan.

Mengapa Ini Penting

Kehadiran ICE yang terus berlanjut di bandara menimbulkan pertanyaan tentang implikasi jangka panjang dari penutupan layanan penting oleh pemerintah federal. Situasi ini menyoroti kerentanan infrastruktur penting terhadap kemacetan politik dan potensi gangguan yang berkepanjangan bahkan setelah masalah pendanaan diselesaikan.

Ketergantungan pemerintah pada ICE untuk menambal lubang keamanan menunjukkan kelemahan sistemik dalam manajemen krisis dan potensi gangguan di masa depan jika penutupan serupa terjadi.

Situasi ini bukan hanya tentang TSA dan ICE; ini tentang ketahanan keamanan transportasi AS yang lebih luas dalam menghadapi tantangan politik yang tidak dapat diprediksi.

Departemen Keamanan Dalam Negeri memperkirakan sekitar 50.000 karyawan TSA akan menerima gaji pada hari Senin, namun dibutuhkan lebih dari sekedar uang untuk memperbaiki masalah kepegawaian.